Latar belakang: Tinggi badan merupakan salah satu indikator pengukuran antropometri yang penting. Persamaan perhitungan tinggi badan pada lansia (lanjut usia) dengan deformitas punggung telah dikembangkan oleh Chumlea. Persamaan yang ada saat ini tidak tepat untuk populasi Asia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian antara tinggi badan yang diukur dengan microtoise dengan perhitungan berdasarkan tinggi lutut menggunakan rumus Chumlea untuk lansia di Indonesia. Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Subyek penelitian adalah 86 (delapan puluh enam) lansia yang menjadi pasien rawat jalan Poliklinik Geriatri di RSUP Dr. Kariadi Semarang, lansia yang menjadi penghuni panti wredha dan lansia yang menjadi anggota posyandu lansia di Semarang pada bulan Juli-September 2009. Kriteria inklusi pasien adalah tidak ada deformitas pada struktur tubuh dan mampu berdiri tegak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demograji, tinggi badan dan tinggi lutut. Tinggi badan diukur menggunakan microtoise, sedangkan tinggi lutut diukur menggunakan knee calliper dengan akurasi 0,1 em. Analisis data menggunakan uji beda Wilcoxon signed rank test. Hasil: Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, dengan usia 59-88 tahun. Rerata umur subyek sebesar 7l±8,7 tahun. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-Iaki adalah 146, 8±5, 6 em, dan 160, 8±6, 2 em. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki dengan rumus Chum lea, adalah 154, 3±7,03 em dan 159, 1±6,78 em, dengan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,077).
Website ini menggunakan cookie analitik (Google Analytics) untuk memahami cara pengunjung menggunakan layanan kami. Cookie sesi digunakan untuk keamanan login dan tidak memerlukan persetujuan.