Remaja akhir ditandai dengan kematangan kognitif dan emosional, namun masih memiliki kebutuhan untuk diakui dan diterima oleh kelompok sebaya. Penerimaan dari individu lain dianggap penting karena untuk bergabung dalam suatu kelompok sering kali dibutuhkan kriteria tertentu. Melalui media sosial khususnya instagram, remaja akhir dapat membentuk komunitas online yang memungkinkan interaksi sosial dan memperoleh umpan balik tentang diri mereka. Di lain sisi instagram juga menampilkan standar kecantikan dan gaya hidup yang dapat memicu rasa cemburu serta meningkatkan risiko cyberbullying. Tujuan penelitian ini adalah menguji secara empiris pengaruh empati terhadap cyberbullying pada remaja akhir pengguna instagram. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif terhadap 140 responden berusia 15–23 tahun di Jabodetabek yang aktif menggunakan instagram lebih dari dua jam setiap hari. Instrumen berupa skala likert, yaitu skala cyberbullying disusun oleh Yurifa (2022) berdasarkan aspek Williard (2005) dan skala empati disusun oleh Mutiara (2023) berdasarkan aspek Davis (1980). Analisis data menggunakan teknik analisis regresi sederhana dengan bantuan Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan nilai R Square = 0,710, yang berarti empati memberikan pengaruh sebesar 71% terhadap cyberbullying.
Tekan ESC untuk menutup